Membangun Karakter Siswa di Kelas
Narasi Bukti / Refleksi
Refleksi Profesional: Membangun Karakter Siswa di Kelas
Konteks Situasi: Di awal semester ini, saya mengamati siswa-siswa saya sering menyerah saat menghadapi tugas yang kompleks, menunjukkan hambatan dalam mengatasi kesulitan tanpa bantuan langsung. Mereka belum menunjukkan ketekunan atau regulasi diri yang memadai.
Tindakan Konkret: Sebagai Activator, saya mulai menerapkan pendekatan inkuiri sederhana dengan memberikan tantangan terbuka namun terstruktur. Saya tidak memberikan jawaban langsung, melainkan mengajukan pertanyaan pemantik yang mendorong mereka untuk merumuskan strategi sendiri. Saya juga memulai dialog singkat di akhir setiap sesi untuk merefleksikan perasaan mereka saat menghadapi kendala.
Dampak Nyata: Meskipun perubahan belum terlihat drastis, beberapa siswa mulai mencoba menyelesaikan tugas tanpa menunggu instruksi. Ada tanda-tanda awal kesadaran bahwa usaha keras diperlukan untuk mencapai tujuan, meskipun masih sering memerlukan dorongan dari saya.
Refleksi (Siklus Measure-Reflect-Change): Berdasarkan pengamatan ini, saya menyadari bahwa pendekatan saya masih terlalu bergantung pada intervensi langsung. Saya perlu beralih dari sekadar memberikan bantuan menjadi memfasilitasi proses berpikir mandiri mereka. Langkah selanjutnya adalah merancang jadwal belajar mandiri yang terstruktur untuk siswa.
Peran Guru: Saya sedang membangun budaya kelas yang aman secara emosional untuk mendukung ketahanan siswa.
Penilaian Progresi: Berdasarkan kerangka Deep Learning, level saat ini saya adalah Limited (Terbatas). Bukti menunjukkan bahwa upaya terstruktur untuk belajar mandiri belum ada, dan hambatan pembelajaran belum diatasi secara aktif oleh siswa. Untuk mencapai level Emerging (Muncul), saya harus fokus pada konsistensi dalam menerapkan jadwal belajar mandiri dan membantu siswa menyadari pentingnya regulasi diri secara lebih sistematis.
Dibagikan oleh
SRI AGUS DWI WAHYUNI, S.Pd.
SD Negeri 3 Kedungsari