🌍 Kewarganegaraan (Citizenship) Berkembang (Developing) 08 Sep 2026

SEMESTA: Semangat Tuntas Aksara sebagai Strategi Sekolah dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi dan Kelancaran Membaca Siswa di SDN Purwoyoso 04 Ngaliyan Kota Semarang

Foto 1 — SEMESTA: Semangat Tuntas Aksara sebagai Strategi Sekolah dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi dan Kelancaran Membaca Siswa di SDN Purwoyoso 04 Ngaliyan Kota Semarang

Narasi Bukti / Refleksi

SEMESTA: Semangat Tuntas Aksara sebagai Strategi Sekolah dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi dan Kelancaran Membaca Siswa di SDN Purwoyoso 04 Ngaliyan Kota Semarang

Abstrak

Kemampuan membaca merupakan fondasi penting bagi keberhasilan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran pada seluruh mata pelajaran. Siswa yang belum mampu membaca dengan lancar akan menghadapi hambatan dalam memahami instruksi, memperoleh informasi, mengerjakan tugas, serta mengembangkan kemampuan literasi pada tahap berikutnya. Kondisi tersebut menjadi perhatian SDN Purwoyoso 04 Ngaliyan Kota Semarang karena masih ditemukan siswa kelas I sampai kelas VI yang belum memiliki kemampuan membaca secara lancar. Kondisi tersebut juga diperkuat oleh adanya masukan dari sekolah lanjutan jenjang SMP mengenai masih ditemukannya lulusan yang mengalami kendala dalam kelancaran membaca. Berdasarkan kondisi tersebut, sekolah mengembangkan program kokurikuler SEMESTA (Semangat Tuntas Aksara) sebagai bentuk intervensi terarah untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa. Program dilaksanakan secara rutin setiap hari Senin setelah kegiatan pembelajaran selesai, bertempat di kelas 1A, dengan melibatkan empat guru, yaitu dua guru kelas I serta guru kelas II dan kelas IV. Pembelajaran menggunakan pendekatan sederhana melalui latihan baca-tulis, pengenalan huruf, suku kata, kata, kalimat, membaca nyaring, membaca berulang, pemberian contoh, koreksi langsung, serta pemantauan perkembangan individual. Pelaksanaan program juga melibatkan orang tua melalui latihan membaca di rumah dan komunikasi perkembangan siswa. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan terhadap rata-rata kemampuan membaca lancar peserta program. SEMESTA diarahkan bukan sekadar sebagai kegiatan tambahan, tetapi sebagai sistem intervensi sekolah yang berkelanjutan dengan target tidak ada lagi siswa yang naik kelas dengan hambatan membaca dan tidak ada lagi lulusan SDN Purwoyoso 04 yang meninggalkan sekolah dengan kendala membaca tidak lancar.

Kata kunci: literasi, membaca lancar, membaca permulaan, SEMESTA, sekolah dasar, intervensi membaca.


Pendahuluan

Literasi merupakan salah satu kemampuan fundamental yang menentukan keberhasilan peserta didik dalam belajar. Di lingkungan sekolah dasar, kemampuan literasi tidak dapat dipisahkan dari kemampuan membaca. Membaca bukan hanya aktivitas mengenali huruf atau melafalkan tulisan, tetapi merupakan proses untuk memperoleh informasi, membangun pemahaman, menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, dan menggunakan informasi tersebut dalam berbagai situasi.

Dalam praktik pendidikan di sekolah dasar, kemampuan membaca berkembang secara bertahap. Pada tahap awal, siswa belajar mengenali huruf, menghubungkan huruf dengan bunyi, membaca suku kata, kata, dan kalimat sederhana. Setelah kemampuan dasar tersebut dikuasai, siswa diharapkan mampu membaca teks secara lebih lancar, akurat, dan ekspresif serta memahami informasi yang dibacanya. Fahrurrozi menjelaskan bahwa membaca permulaan merupakan tahap penting yang umumnya diberikan pada kelas I dan II, sedangkan kemampuan membaca lanjutan berkembang pada kelas III sampai VI. (Jurnal UNJ)

Permasalahan muncul ketika seorang siswa belum menguasai kemampuan membaca pada tahap yang seharusnya. Hambatan tersebut dapat terbawa ke kelas berikutnya dan semakin kompleks ketika siswa harus berhadapan dengan buku teks, soal cerita, instruksi tertulis, dan berbagai sumber informasi. Dengan demikian, persoalan membaca bukan semata-mata persoalan mata pelajaran Bahasa Indonesia, melainkan persoalan yang dapat memengaruhi keseluruhan proses belajar.

Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian SDN Purwoyoso 04 Ngaliyan Kota Semarang. Berdasarkan pemantauan sekolah, masih terdapat siswa kelas I sampai kelas VI yang belum lancar membaca. Bahkan, sekolah memperoleh aduan atau masukan dari sekolah lanjutan jenjang SMP bahwa masih terdapat lulusan yang mengalami kendala dalam membaca. Kondisi ini menjadi refleksi penting bagi sekolah bahwa keberhasilan pendidikan dasar tidak cukup hanya ditunjukkan melalui kelulusan administratif, tetapi juga melalui penguasaan kompetensi dasar yang benar-benar dibutuhkan siswa untuk melanjutkan pendidikan.

Sebagai kepala sekolah, kondisi tersebut mendorong lahirnya sebuah program yang tidak hanya bersifat remedial sesaat, tetapi dirancang sebagai gerakan bersama sekolah. Program tersebut diberi nama SEMESTA, yaitu Semangat Tuntas Aksara. Nama SEMESTA memiliki makna bahwa seluruh warga sekolah memiliki semangat yang sama untuk memastikan setiap anak mampu menuntaskan kemampuan dasar membaca.

Program ini menempatkan kelancaran membaca sebagai sasaran utama. Siswa yang belum lancar tidak dipandang sebagai anak yang gagal, tetapi sebagai anak yang membutuhkan waktu, pendampingan, metode yang sesuai, latihan yang konsisten, dan dukungan dari lingkungan sekolah serta keluarga.


Landasan Teori Membaca Lancar

1. Membaca lancar sebagai bagian penting dari kompetensi membaca

National Reading Panel mendefinisikan kelancaran membaca sebagai kemampuan membaca secara cepat, akurat, dan dengan ekspresi yang tepat. Kelancaran merupakan salah satu komponen penting dalam pencapaian pemahaman membaca. Pembaca yang membaca secara terbata-bata dan membutuhkan usaha besar untuk mengenali kata akan memiliki lebih sedikit sumber daya kognitif untuk memahami makna bacaan. (NICHD)

Dengan demikian, membaca lancar setidaknya mencakup tiga komponen utama, yaitu:

  1. ketepatan (accuracy) dalam mengenali dan melafalkan kata;
  2. kecepatan (rate) atau kemampuan membaca dengan tempo yang sesuai; dan
  3. prosodi (prosody) berupa intonasi, tekanan, jeda, dan ekspresi yang sesuai dengan makna teks.

Ketiga komponen tersebut saling berkaitan. Anak yang membaca cepat tetapi banyak melakukan kesalahan belum dapat disebut sebagai pembaca yang lancar. Demikian pula anak yang membaca dengan benar tetapi sangat terbata-bata masih membutuhkan intervensi untuk mencapai otomatisitas membaca.

2. Teori otomatisitas LaBerge dan Samuels

Salah satu teori penting dalam memahami kelancaran membaca dikemukakan oleh LaBerge dan Samuels melalui teori pemrosesan informasi otomatis. Mereka menjelaskan bahwa dalam proses membaca terdapat tahapan pemrosesan informasi dan bahwa kemampuan yang awalnya membutuhkan perhatian secara bertahap dapat menjadi otomatis melalui proses belajar dan latihan. (DOI)

Teori ini sangat relevan dengan program SEMESTA. Pada siswa yang belum lancar membaca, perhatian anak masih banyak tersita untuk mengenali huruf, menggabungkan bunyi, membaca suku kata, atau mengenali kata. Akibatnya, anak belum dapat memberikan perhatian optimal pada makna kalimat.

Latihan yang berulang dan terarah diharapkan membuat pengenalan huruf, suku kata, dan kata menjadi semakin otomatis. Ketika proses decoding menjadi lebih otomatis, kemampuan kognitif siswa dapat dialihkan untuk memahami isi bacaan.

3. Simple View of Reading

Hoover dan Gough melalui Simple View of Reading menjelaskan bahwa kemampuan membaca yang terampil dapat dipahami melalui dua komponen penting, yaitu decoding dan linguistic comprehension. Keduanya diperlukan agar siswa dapat mencapai pemahaman membaca yang baik. (DOI)

Dalam konteks SEMESTA, teori tersebut menunjukkan bahwa sekolah tidak boleh hanya meminta siswa "membaca lebih banyak". Siswa yang belum mampu melakukan decoding perlu dibantu melalui latihan membaca dasar secara sistematis. Setelah kemampuan decoding berkembang, siswa perlu diarahkan untuk memahami makna kata, kalimat, dan teks.

Dengan demikian, SEMESTA tidak hanya mengejar kecepatan membaca, tetapi membangun fondasi membaca dari kemampuan mengenali aksara hingga membaca kalimat dan teks secara bermakna.


Penelitian Terdahulu tentang Peningkatan Kelancaran Membaca

Program SEMESTA memiliki dasar yang kuat dari penelitian terdahulu. Salah satu pendekatan yang banyak diteliti adalah repeated reading atau membaca berulang.

National Reading Panel melakukan kajian terhadap penelitian mengenai pembelajaran kelancaran membaca dan menemukan bukti positif dari guided repeated oral reading, yaitu membaca teks secara lisan dengan bimbingan dan umpan balik sistematis dari guru, teman sebaya, atau orang tua. Pendekatan tersebut memberikan dampak positif terhadap pengenalan kata, kelancaran, dan pemahaman membaca. (NICHD)

What Works Clearinghouse juga menjelaskan bahwa repeated reading digunakan untuk meningkatkan kelancaran membaca lisan. Dalam praktiknya, siswa membaca sebuah teks secara lisan beberapa kali, mendapatkan bantuan ketika mengalami kesulitan, kemudian membaca kembali sampai mencapai tingkat kelancaran yang ditargetkan. (Institute of Education Sciences)

Penelitian Stevens, Walker, dan Vaughn terhadap intervensi kelancaran membaca pada siswa sekolah dasar menunjukkan bahwa repeated reading, intervensi multikomponen, dan assisted reading dapat memberikan peningkatan pada kelancaran dan pemahaman membaca. Penelitian tersebut juga menunjukkan pentingnya pemberian model membaca yang lancar, umpan balik, penggunaan teks dengan tingkat kesulitan yang sesuai, penetapan target, serta latihan membaca bersama teman. (PubMed Central (PMC))

Kajian yang lebih baru oleh Maki dan Hammerschmidt-Snidarich terhadap 33 penelitian intervensi kelancaran membaca dari jenjang TK sampai kelas 12 menemukan efek keseluruhan yang berada pada kategori sedang, dengan effect size sebesar 0,46. Temuan tersebut memberikan bukti bahwa intervensi kelancaran membaca secara umum efektif bagi siswa dengan berbagai karakteristik kesulitan membaca. Durasi intervensi juga menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan perkembangan kemampuan membaca. (ScienceDirect)

Kajian sistematis terhadap intervensi kelancaran membaca untuk siswa yang mengalami kesulitan membaca juga menunjukkan dominasi penggunaan repeated reading. Dari penelitian yang dikaji, 86,5% menggunakan prosedur membaca berulang. Hasil tersebut mendukung penggunaan membaca berulang untuk membangun oral reading fluency. (MDPI)

Penelitian di Indonesia juga memberikan hasil yang sejalan. Hidayat menemukan bahwa penerapan teknik repeated reading selama 12 hari pada siswa kelas III sekolah dasar yang belum lancar membaca menghasilkan peningkatan skor Words Correct Per Minute (WCPM) sebesar 15,79, disertai penurunan kesalahan dan peningkatan ekspresi membaca. (eJournal UIN Sunan Gunung Djati)

Penelitian Azizah, Rosiana, dan Hamdan terhadap siswa sekolah dasar juga menemukan bahwa repeated reading yang dilakukan selama 12 hari dengan pengulangan membaca teks dan pelatihan pelafalan kata yang salah mampu meningkatkan kecepatan dan ketepatan membaca secara signifikan. (Jurnal Universitas Sebelas Maret)

Penelitian lain mengenai penggunaan repeated reading pada siswa kelas IV yang mengalami hambatan membaca juga menunjukkan adanya perubahan kemampuan membaca setelah diberikan intervensi repeated reading dan supported cloze. (eJournals Universitas Mulawarman)

Temuan-temuan tersebut memperkuat keyakinan bahwa peningkatan kelancaran membaca membutuhkan latihan yang teratur, teks yang sesuai kemampuan siswa, pengulangan, bimbingan guru, umpan balik, serta pemantauan perkembangan.


Program SEMESTA SDN Purwoyoso 04

Berangkat dari landasan teori dan kebutuhan nyata sekolah, SDN Purwoyoso 04 mengembangkan program SEMESTA (Semangat Tuntas Aksara) sebagai program kokurikuler peningkatan literasi.

Program ini memiliki sasaran siswa kelas I sampai VI yang berdasarkan hasil pengamatan guru masih mengalami hambatan dalam membaca. Artinya, intervensi tidak hanya diberikan kepada siswa kelas rendah. Siswa kelas IV, V, atau VI yang masih belum lancar membaca tetap memperoleh kesempatan mendapatkan bantuan.

Kegiatan dilaksanakan setiap hari Senin setelah jam pelajaran berakhir. Peserta dikumpulkan di kelas 1A. Pelaksanaan program didampingi oleh empat orang guru, yaitu dua guru kelas I serta guru dari kelas II dan kelas IV.

Pemilihan tempat dan waktu dibuat sederhana agar program mudah dilaksanakan secara konsisten dan tidak membutuhkan fasilitas khusus. Prinsip utama SEMESTA adalah bahwa program peningkatan membaca harus mudah dilaksanakan, teratur, berkelanjutan, dan dapat dipantau.


Strategi Pelaksanaan SEMESTA

Metode yang digunakan dalam program ini adalah metode baca-tulis sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan individual siswa. Tahapan pembelajaran dapat meliputi:

Pertama, identifikasi kemampuan awal. Guru melakukan pemetaan kemampuan siswa, mulai dari pengenalan huruf, bunyi huruf, suku kata, kata, kalimat, hingga membaca teks sederhana.

Kedua, pengelompokan berdasarkan kemampuan. Siswa tidak semata-mata dikelompokkan berdasarkan kelas, tetapi berdasarkan kebutuhan membaca. Dengan demikian, siswa kelas V yang masih berada pada kemampuan membaca dasar dapat memperoleh materi yang sesuai tanpa merasa dipermalukan.

Ketiga, penguatan aksara dan bunyi. Untuk siswa yang masih mengalami kesulitan mengenali huruf, guru memberikan latihan pengenalan huruf dan hubungan antara simbol dengan bunyi.

Keempat, latihan suku kata dan kata. Guru menggunakan kata-kata sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa. Latihan dilakukan secara bertahap dari suku kata menuju kata dan kalimat.

Kelima, membaca nyaring. Siswa membaca secara lisan dengan bimbingan guru. Guru memberikan contoh pelafalan, jeda, intonasi, dan ekspresi.

Keenam, membaca berulang. Siswa membaca teks pendek beberapa kali. Pengulangan tidak dilakukan secara mekanis, tetapi disertai koreksi kesalahan, contoh dari guru, dan motivasi.

Ketujuh, menulis sederhana. Membaca dipadukan dengan aktivitas menulis agar siswa semakin mengenali hubungan antara bunyi, huruf, kata, dan makna.

Kedelapan, evaluasi perkembangan. Guru mencatat perkembangan siswa secara rutin sehingga kemajuan tidak hanya berdasarkan kesan, tetapi dapat dilihat dari perubahan kemampuan individu.

Pendekatan tersebut sejalan dengan rekomendasi What Works Clearinghouse yang menekankan pentingnya pengembangan keterampilan fonologis, decoding, dan kesempatan membaca teks terhubung secara rutin untuk mendukung ketepatan, kelancaran, dan pemahaman. (Institute of Education Sciences)


Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua

Salah satu kekuatan SEMESTA adalah keterlibatan orang tua. Sekolah menyadari bahwa waktu belajar di sekolah terbatas. Oleh sebab itu, latihan membaca perlu dilanjutkan di rumah.

Orang tua diarahkan untuk menyediakan waktu membaca singkat secara rutin, mendengarkan anak membaca, memberikan pujian ketika terjadi kemajuan, dan tidak memberikan label negatif ketika anak melakukan kesalahan. Orang tua juga dapat berkomunikasi dengan guru mengenai perkembangan anak.

Pendekatan tersebut sesuai dengan rekomendasi What Works Clearinghouse yang mendorong orang tua untuk membaca bersama anak, membantu anak membaca kata secara tepat, dan memberikan contoh membaca secara lancar melalui membaca nyaring. (ERIC)

Dengan demikian, tanggung jawab peningkatan kemampuan membaca tidak dibebankan kepada guru saja. Sekolah, guru, orang tua, dan siswa menjadi satu kesatuan dalam proses intervensi.


Monitoring dan Evaluasi

Program SEMESTA dilaksanakan secara rutin dan dipantau berdasarkan perkembangan masing-masing siswa. Monitoring dilakukan dengan melihat beberapa indikator, antara lain:

  1. kemampuan mengenali huruf;
  2. kemampuan membaca suku kata;
  3. kemampuan membaca kata;
  4. kemampuan membaca kalimat;
  5. ketepatan pelafalan;
  6. jumlah kesalahan membaca;
  7. kelancaran atau keterputusan saat membaca;
  8. kecepatan membaca;
  9. penggunaan intonasi dan ekspresi;
  10. kemampuan memahami isi bacaan sederhana.

Pengukuran kecepatan dapat menggunakan konsep Words Correct Per Minute (WCPM) sebagai salah satu indikator tambahan. WCPM menghitung jumlah kata yang dibaca dengan benar dalam waktu tertentu. Namun, sekolah tidak menjadikan kecepatan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Ketepatan, kelancaran, ekspresi, dan pemahaman tetap diperhatikan.

Hal tersebut penting karena tujuan akhir SEMESTA bukan menciptakan siswa yang sekadar membaca cepat, melainkan siswa yang mampu membaca dengan benar, lancar, percaya diri, dan memahami apa yang dibacanya.


Hasil dan Dampak Program

Pelaksanaan program SEMESTA menunjukkan hasil yang menggembirakan. Berdasarkan pemantauan sekolah, terdapat peningkatan yang signifikan pada rata-rata kemampuan membaca lancar peserta program setelah mengikuti kegiatan secara rutin.

Peningkatan tersebut terlihat dari kemampuan siswa yang secara bertahap menjadi lebih berani membaca, semakin tepat dalam melafalkan kata, semakin sedikit mengalami hambatan ketika membaca, serta semakin mampu membaca kalimat dan teks sederhana dengan lebih lancar.

Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa siswa yang sebelumnya mengalami hambatan membaca masih memiliki potensi perkembangan yang besar ketika memperoleh intervensi yang sesuai, konsisten, dan tidak memberikan tekanan psikologis.

Temuan tersebut juga memperkuat hasil penelitian terdahulu bahwa latihan membaca berulang, pembimbingan, pemberian model membaca, dan umpan balik dapat membantu meningkatkan kelancaran membaca. (Sage Journals)

Yang lebih penting, SEMESTA memberikan perubahan pada cara sekolah memandang masalah membaca. Hambatan membaca tidak lagi dianggap sebagai persoalan pribadi siswa atau semata-mata tanggung jawab guru kelas. Hambatan tersebut menjadi tanggung jawab bersama satuan pendidikan.


Indikator Keberhasilan Program

Sekolah menetapkan keberhasilan SEMESTA dalam jangka panjang melalui dua indikator utama.

Pertama, tidak ada lagi siswa yang naik kelas dengan hambatan tidak lancar membaca.

Artinya, sebelum seorang siswa melanjutkan ke kelas berikutnya, sekolah memastikan bahwa siswa tersebut telah memiliki kemampuan membaca yang memadai sesuai tahap perkembangannya.

Kedua, tidak ada lagi siswa yang lulus SDN Purwoyoso 04 dengan kendala tidak lancar membaca.

Indikator kedua menjadi komitmen penting sekolah. Lulusan sekolah dasar harus memiliki kemampuan membaca yang menjadi bekal untuk mengikuti pembelajaran di jenjang SMP.

Dengan demikian, keberhasilan SEMESTA tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan yang terlaksana, jumlah pertemuan, atau jumlah siswa yang mengikuti program. Keberhasilan utamanya diukur dari perubahan kemampuan siswa dan hilangnya hambatan membaca sebagai persoalan yang terbawa ke jenjang berikutnya.


SEMESTA sebagai Budaya Sekolah

Program SEMESTA pada akhirnya bukan hanya sebuah kegiatan tambahan pada hari Senin. Program ini diharapkan berkembang menjadi budaya literasi sekolah.

Budaya tersebut diwujudkan melalui prinsip sederhana: setiap anak berhak bisa membaca, setiap anak harus dibantu sampai lancar, dan tidak boleh ada anak yang tertinggal tanpa intervensi.

Guru kelas memiliki peran untuk mengidentifikasi siswa yang membutuhkan bantuan. Guru pendamping memberikan intervensi. Orang tua melanjutkan latihan di rumah. Kepala sekolah memastikan program berjalan, menyediakan dukungan, melakukan monitoring, dan mengevaluasi keberhasilannya.

Prinsip tersebut sejalan dengan pandangan bahwa intervensi membaca akan lebih bermakna apabila dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Kajian Maki dan Hammerschmidt-Snidarich menunjukkan bahwa durasi intervensi berkaitan dengan pertumbuhan kemampuan membaca, sehingga program sekolah perlu dilakukan secara konsisten, bukan hanya sesekali. (ScienceDirect)


Kesimpulan

SEMESTA atau Semangat Tuntas Aksara merupakan inovasi kokurikuler SDN Purwoyoso 04 Ngaliyan Kota Semarang yang lahir dari kebutuhan nyata untuk mengatasi masih ditemukannya siswa kelas I sampai VI yang belum lancar membaca serta adanya masukan dari sekolah lanjutan mengenai lulusan yang masih mengalami hambatan membaca.

Program dilaksanakan secara sederhana tetapi terstruktur melalui latihan baca-tulis, membaca nyaring, membaca berulang, pemberian contoh, koreksi, latihan individual, monitoring perkembangan, dan keterlibatan orang tua. Pelaksanaan secara rutin setiap hari Senin setelah pembelajaran memberikan ruang khusus bagi siswa untuk mendapatkan intervensi yang lebih intensif.

Landasan teori otomatisitas membaca, Simple View of Reading, temuan National Reading Panel, rekomendasi What Works Clearinghouse, serta berbagai penelitian nasional dan internasional menunjukkan bahwa kelancaran membaca dapat dikembangkan melalui latihan yang sistematis, berulang, terbimbing, dan disertai umpan balik.

Hasil pelaksanaan SEMESTA di SDN Purwoyoso 04 menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan terhadap rata-rata kemampuan membaca lancar peserta program. Keberhasilan tersebut menjadi dasar bagi sekolah untuk terus mengembangkan SEMESTA sebagai program berkelanjutan.

Pada akhirnya, tujuan terbesar program ini bukan sekadar meningkatkan skor membaca, tetapi memastikan bahwa setiap anak SDN Purwoyoso 04 memiliki hak yang sama untuk mampu membaca, memahami informasi, belajar dengan percaya diri, dan melanjutkan pendidikan tanpa hambatan literasi dasar.

Komitmen sekolah dirumuskan secara sederhana: tidak ada lagi siswa yang naik kelas dengan hambatan tidak lancar membaca dan tidak ada lagi siswa yang lulus dengan kendala tidak lancar membaca.

SEMESTA bukan sekadar program membaca. SEMESTA adalah wujud tanggung jawab sekolah untuk memastikan setiap anak tuntas aksara dan siap belajar sepanjang hayat.


Daftar Pustaka

Aldhanhani, Z., & Abu-Ayyash, E. (2021). Oral reading fluency: Teaching and assessment strategies. Universal Journal of Educational Research, 9(7), 1375–1384. https://doi.org/10.13189/ujer.2021.090704

Azizah, A. N., Rosiana, D., & Hamdan, S. R. (2025). The effect of repeated reading method on reading fluence in slow learning students in state primary schools. International Journal of Pedagogy and Teacher Education. (Jurnal Universitas Sebelas Maret)

Foorman, B., Beyler, N., Borradaile, K., Coyne, M., Denton, C. A., Dimino, J., Furgeson, J., Hayes, L., Henke, J., Justice, L., Keating, B., Lewis, W., Sattar, S., Streke, A., Wagner, R., & Wissel, S. (2016). Foundational Skills to Support Reading for Understanding in Kindergarten Through 3rd Grade. What Works Clearinghouse, Institute of Education Sciences. (ERIC)

Fahrurrozi. (2016). Pembelajaran membaca permulaan di sekolah dasar. Jurnal Ilmiah PGSD, 8(2). (Jurnal UNJ)

Hidayat, I. N. (2019). Pengaruh teknik repeated reading terhadap kemampuan reading fluency pada siswa kelas III sekolah dasar. Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi, 6(1). https://doi.org/10.15575/psy.v6i1.2134 (eJournal UIN Sunan Gunung Djati)

Hoover, W. A., & Gough, P. B. (1990). The simple view of reading. Reading and Writing, 2, 127–160. https://doi.org/10.1007/BF00401799 (DOI)

LaBerge, D., & Samuels, S. J. (1974). Toward a theory of automatic information processing in reading. Cognitive Psychology, 6(2), 293–323. https://doi.org/10.1016/0010-0285(74)90015-2 (DOI)

Maki, K. E., & Hammerschmidt-Snidarich, S. (2022). Reading fluency intervention dosage: A novel meta-analysis and research synthesis. Journal of School Psychology, 92, 148–165. https://doi.org/10.1016/j.jsp.2022.03.008 (PubMed)

National Reading Panel. (2000). Teaching Children to Read: An Evidence-Based Assessment of the Scientific Research Literature on Reading and Its Implications for Reading Instruction. National Institute of Child Health and Human Development. (NICHD)

Stevens, E. A., Walker, M. A., & Vaughn, S. (2017). The effects of reading fluency interventions on the reading fluency and reading comprehension performance of elementary students with learning disabilities: A synthesis of the research from 2001 to 2014. Journal of Learning Disabilities, 50(5), 576–590. https://doi.org/10.1177/0022219416638028 (Sage Journals)

Zimmermann, L. M., Reed, D. K., & Aloe, A. M. (2021). A meta-analysis of non-repetitive reading fluency interventions for students with reading difficulties. Remedial and Special Education, 42(2), 78–93. https://doi.org/10.1177/0741932519855058 (Pusat Penelitian UIowa)

Wulandari, T., Hia, A. F. A., Rahmayani, T. R., Rahmah ZD, N. N., Syarif, A., & Novianti, S. (2026). Strategi pembelajaran membaca permulaan pada siswa sekolah dasar: Kajian literatur. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. https://doi.org/10.23969/jp.v11i02.49370 (Journal Universitas Pasundan)

What Works Clearinghouse. (2014). Repeated Reading: What Works Clearinghouse Intervention Report. Institute of Education Sciences. (ERIC)

What Works Clearinghouse. (2022). Providing Reading Interventions for Students in Grades 4–9. Institute of Education Sciences. (Institute of Education Sciences

VANDA ESTETIKA SISWANDARI

Dibagikan oleh

VANDA ESTETIKA SISWANDARI

SD Negeri Purwoyoso 04

Kepala Sekolah SD Kota Semarang, Jawa Tengah
Profil 6C