SEMESTA: Semangat Tuntas Aksara sebagai Strategi Sekolah dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi dan Kelancaran Membaca Siswa di SDN Purwoyoso 04 Ngaliyan Kota Semarang
Narasi Bukti / Refleksi
SEMESTA: Semangat Tuntas
Aksara sebagai Strategi Sekolah dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi dan
Kelancaran Membaca Siswa di SDN Purwoyoso 04 Ngaliyan Kota Semarang
Abstrak
Kemampuan membaca merupakan
fondasi penting bagi keberhasilan peserta didik dalam mengikuti proses
pembelajaran pada seluruh mata pelajaran. Siswa yang belum mampu membaca dengan
lancar akan menghadapi hambatan dalam memahami instruksi, memperoleh informasi,
mengerjakan tugas, serta mengembangkan kemampuan literasi pada tahap berikutnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian SDN Purwoyoso 04 Ngaliyan Kota Semarang
karena masih ditemukan siswa kelas I sampai kelas VI yang belum memiliki
kemampuan membaca secara lancar. Kondisi tersebut juga diperkuat oleh adanya
masukan dari sekolah lanjutan jenjang SMP mengenai masih ditemukannya lulusan
yang mengalami kendala dalam kelancaran membaca. Berdasarkan kondisi tersebut,
sekolah mengembangkan program kokurikuler SEMESTA (Semangat Tuntas Aksara)
sebagai bentuk intervensi terarah untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa.
Program dilaksanakan secara rutin setiap hari Senin setelah kegiatan
pembelajaran selesai, bertempat di kelas 1A, dengan melibatkan empat guru,
yaitu dua guru kelas I serta guru kelas II dan kelas IV. Pembelajaran menggunakan
pendekatan sederhana melalui latihan baca-tulis, pengenalan huruf, suku kata,
kata, kalimat, membaca nyaring, membaca berulang, pemberian contoh, koreksi
langsung, serta pemantauan perkembangan individual. Pelaksanaan program juga
melibatkan orang tua melalui latihan membaca di rumah dan komunikasi
perkembangan siswa. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan yang
signifikan terhadap rata-rata kemampuan membaca lancar peserta program. SEMESTA
diarahkan bukan sekadar sebagai kegiatan tambahan, tetapi sebagai sistem
intervensi sekolah yang berkelanjutan dengan target tidak ada lagi siswa yang
naik kelas dengan hambatan membaca dan tidak ada lagi lulusan SDN Purwoyoso 04
yang meninggalkan sekolah dengan kendala membaca tidak lancar.
Kata
kunci: literasi,
membaca lancar, membaca permulaan, SEMESTA, sekolah dasar, intervensi membaca.
Pendahuluan
Literasi
merupakan salah satu kemampuan fundamental yang menentukan keberhasilan peserta
didik dalam belajar. Di lingkungan sekolah dasar, kemampuan literasi tidak
dapat dipisahkan dari kemampuan membaca. Membaca bukan hanya aktivitas
mengenali huruf atau melafalkan tulisan, tetapi merupakan proses untuk
memperoleh informasi, membangun pemahaman, menghubungkan informasi baru dengan
pengetahuan sebelumnya, dan menggunakan informasi tersebut dalam berbagai
situasi.
Dalam
praktik pendidikan di sekolah dasar, kemampuan membaca berkembang secara
bertahap. Pada tahap awal, siswa belajar mengenali huruf, menghubungkan huruf
dengan bunyi, membaca suku kata, kata, dan kalimat sederhana. Setelah kemampuan
dasar tersebut dikuasai, siswa diharapkan mampu membaca teks secara lebih
lancar, akurat, dan ekspresif serta memahami informasi yang dibacanya.
Fahrurrozi menjelaskan bahwa membaca permulaan merupakan tahap penting yang umumnya
diberikan pada kelas I dan II, sedangkan kemampuan membaca lanjutan berkembang
pada kelas III sampai VI. (Jurnal UNJ)
Permasalahan
muncul ketika seorang siswa belum menguasai kemampuan membaca pada tahap yang
seharusnya. Hambatan tersebut dapat terbawa ke kelas berikutnya dan semakin
kompleks ketika siswa harus berhadapan dengan buku teks, soal cerita, instruksi
tertulis, dan berbagai sumber informasi. Dengan demikian, persoalan membaca
bukan semata-mata persoalan mata pelajaran Bahasa Indonesia, melainkan
persoalan yang dapat memengaruhi keseluruhan proses belajar.
Kondisi
tersebut menjadi salah satu perhatian SDN Purwoyoso 04 Ngaliyan Kota Semarang.
Berdasarkan pemantauan sekolah, masih terdapat siswa kelas I sampai kelas VI
yang belum lancar membaca. Bahkan, sekolah memperoleh aduan atau masukan dari
sekolah lanjutan jenjang SMP bahwa masih terdapat lulusan yang mengalami
kendala dalam membaca. Kondisi ini menjadi refleksi penting bagi sekolah bahwa
keberhasilan pendidikan dasar tidak cukup hanya ditunjukkan melalui kelulusan
administratif, tetapi juga melalui penguasaan kompetensi dasar yang benar-benar
dibutuhkan siswa untuk melanjutkan pendidikan.
Sebagai
kepala sekolah, kondisi tersebut mendorong lahirnya sebuah program yang tidak
hanya bersifat remedial sesaat, tetapi dirancang sebagai gerakan bersama sekolah.
Program tersebut diberi nama SEMESTA, yaitu Semangat Tuntas Aksara. Nama
SEMESTA memiliki makna bahwa seluruh warga sekolah memiliki semangat yang sama
untuk memastikan setiap anak mampu menuntaskan kemampuan dasar membaca.
Program
ini menempatkan kelancaran membaca sebagai sasaran utama. Siswa yang belum
lancar tidak dipandang sebagai anak yang gagal, tetapi sebagai anak yang
membutuhkan waktu, pendampingan, metode yang sesuai, latihan yang konsisten,
dan dukungan dari lingkungan sekolah serta keluarga.
Landasan Teori Membaca Lancar
1. Membaca lancar sebagai bagian penting dari
kompetensi membaca
National
Reading Panel mendefinisikan kelancaran membaca sebagai kemampuan membaca
secara cepat, akurat, dan dengan ekspresi yang tepat. Kelancaran
merupakan salah satu komponen penting dalam pencapaian pemahaman membaca.
Pembaca yang membaca secara terbata-bata dan membutuhkan usaha besar untuk
mengenali kata akan memiliki lebih sedikit sumber daya kognitif untuk memahami
makna bacaan. (NICHD)
Dengan
demikian, membaca lancar setidaknya mencakup tiga komponen utama, yaitu:
- ketepatan (accuracy) dalam mengenali dan
melafalkan kata;
- kecepatan (rate) atau kemampuan membaca
dengan tempo yang sesuai; dan
- prosodi (prosody) berupa intonasi, tekanan,
jeda, dan ekspresi yang sesuai dengan makna teks.
Ketiga
komponen tersebut saling berkaitan. Anak yang membaca cepat tetapi banyak
melakukan kesalahan belum dapat disebut sebagai pembaca yang lancar. Demikian
pula anak yang membaca dengan benar tetapi sangat terbata-bata masih
membutuhkan intervensi untuk mencapai otomatisitas membaca.
2. Teori otomatisitas LaBerge dan Samuels
Salah
satu teori penting dalam memahami kelancaran membaca dikemukakan oleh LaBerge
dan Samuels melalui teori pemrosesan informasi otomatis. Mereka menjelaskan
bahwa dalam proses membaca terdapat tahapan pemrosesan informasi dan bahwa
kemampuan yang awalnya membutuhkan perhatian secara bertahap dapat menjadi
otomatis melalui proses belajar dan latihan. (DOI)
Teori ini
sangat relevan dengan program SEMESTA. Pada siswa yang belum lancar membaca,
perhatian anak masih banyak tersita untuk mengenali huruf, menggabungkan bunyi,
membaca suku kata, atau mengenali kata. Akibatnya, anak belum dapat memberikan
perhatian optimal pada makna kalimat.
Latihan
yang berulang dan terarah diharapkan membuat pengenalan huruf, suku kata, dan
kata menjadi semakin otomatis. Ketika proses decoding menjadi lebih otomatis,
kemampuan kognitif siswa dapat dialihkan untuk memahami isi bacaan.
3. Simple View of Reading
Hoover
dan Gough melalui Simple View of Reading menjelaskan bahwa kemampuan
membaca yang terampil dapat dipahami melalui dua komponen penting, yaitu decoding
dan linguistic comprehension. Keduanya diperlukan agar siswa dapat
mencapai pemahaman membaca yang baik. (DOI)
Dalam
konteks SEMESTA, teori tersebut menunjukkan bahwa sekolah tidak boleh hanya
meminta siswa "membaca lebih banyak". Siswa yang belum mampu
melakukan decoding perlu dibantu melalui latihan membaca dasar secara sistematis.
Setelah kemampuan decoding berkembang, siswa perlu diarahkan untuk memahami
makna kata, kalimat, dan teks.
Dengan
demikian, SEMESTA tidak hanya mengejar kecepatan membaca, tetapi membangun
fondasi membaca dari kemampuan mengenali aksara hingga membaca kalimat dan teks
secara bermakna.
Penelitian Terdahulu tentang Peningkatan Kelancaran
Membaca
Program
SEMESTA memiliki dasar yang kuat dari penelitian terdahulu. Salah satu
pendekatan yang banyak diteliti adalah repeated reading atau membaca berulang.
National
Reading Panel melakukan kajian terhadap penelitian mengenai pembelajaran
kelancaran membaca dan menemukan bukti positif dari guided repeated oral
reading, yaitu membaca teks secara lisan dengan bimbingan dan umpan balik
sistematis dari guru, teman sebaya, atau orang tua. Pendekatan tersebut
memberikan dampak positif terhadap pengenalan kata, kelancaran, dan pemahaman
membaca. (NICHD)
What
Works Clearinghouse juga menjelaskan bahwa repeated reading digunakan untuk
meningkatkan kelancaran membaca lisan. Dalam praktiknya, siswa membaca sebuah
teks secara lisan beberapa kali, mendapatkan bantuan ketika mengalami
kesulitan, kemudian membaca kembali sampai mencapai tingkat kelancaran yang
ditargetkan. (Institute
of Education Sciences)
Penelitian
Stevens, Walker, dan Vaughn terhadap intervensi kelancaran membaca pada siswa
sekolah dasar menunjukkan bahwa repeated reading, intervensi multikomponen, dan
assisted reading dapat memberikan peningkatan pada kelancaran dan pemahaman
membaca. Penelitian tersebut juga menunjukkan pentingnya pemberian model
membaca yang lancar, umpan balik, penggunaan teks dengan tingkat kesulitan yang
sesuai, penetapan target, serta latihan membaca bersama teman. (PubMed Central (PMC))
Kajian
yang lebih baru oleh Maki dan Hammerschmidt-Snidarich terhadap 33 penelitian
intervensi kelancaran membaca dari jenjang TK sampai kelas 12 menemukan efek keseluruhan
yang berada pada kategori sedang, dengan effect size sebesar 0,46.
Temuan tersebut memberikan bukti bahwa intervensi kelancaran membaca secara
umum efektif bagi siswa dengan berbagai karakteristik kesulitan membaca. Durasi
intervensi juga menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan perkembangan
kemampuan membaca. (ScienceDirect)
Kajian
sistematis terhadap intervensi kelancaran membaca untuk siswa yang mengalami
kesulitan membaca juga menunjukkan dominasi penggunaan repeated reading. Dari
penelitian yang dikaji, 86,5% menggunakan prosedur membaca berulang. Hasil
tersebut mendukung penggunaan membaca berulang untuk membangun oral reading
fluency. (MDPI)
Penelitian
di Indonesia juga memberikan hasil yang sejalan. Hidayat menemukan bahwa
penerapan teknik repeated reading selama 12 hari pada siswa kelas III sekolah
dasar yang belum lancar membaca menghasilkan peningkatan skor Words Correct
Per Minute (WCPM) sebesar 15,79, disertai penurunan kesalahan dan peningkatan
ekspresi membaca. (eJournal UIN Sunan Gunung Djati)
Penelitian
Azizah, Rosiana, dan Hamdan terhadap siswa sekolah dasar juga menemukan bahwa
repeated reading yang dilakukan selama 12 hari dengan pengulangan membaca teks
dan pelatihan pelafalan kata yang salah mampu meningkatkan kecepatan dan
ketepatan membaca secara signifikan. (Jurnal Universitas Sebelas Maret)
Penelitian
lain mengenai penggunaan repeated reading pada siswa kelas IV yang mengalami
hambatan membaca juga menunjukkan adanya perubahan kemampuan membaca setelah
diberikan intervensi repeated reading dan supported cloze. (eJournals Universitas Mulawarman)
Temuan-temuan
tersebut memperkuat keyakinan bahwa peningkatan kelancaran membaca membutuhkan latihan
yang teratur, teks yang sesuai kemampuan siswa, pengulangan, bimbingan guru,
umpan balik, serta pemantauan perkembangan.
Program SEMESTA SDN Purwoyoso 04
Berangkat
dari landasan teori dan kebutuhan nyata sekolah, SDN Purwoyoso 04 mengembangkan
program SEMESTA (Semangat Tuntas Aksara) sebagai program kokurikuler
peningkatan literasi.
Program
ini memiliki sasaran siswa kelas I sampai VI yang berdasarkan hasil pengamatan
guru masih mengalami hambatan dalam membaca. Artinya, intervensi tidak hanya
diberikan kepada siswa kelas rendah. Siswa kelas IV, V, atau VI yang masih
belum lancar membaca tetap memperoleh kesempatan mendapatkan bantuan.
Kegiatan
dilaksanakan setiap hari Senin setelah jam pelajaran berakhir. Peserta
dikumpulkan di kelas 1A. Pelaksanaan program didampingi oleh empat orang
guru, yaitu dua guru kelas I serta guru dari kelas II dan kelas IV.
Pemilihan
tempat dan waktu dibuat sederhana agar program mudah dilaksanakan secara
konsisten dan tidak membutuhkan fasilitas khusus. Prinsip utama SEMESTA adalah
bahwa program peningkatan membaca harus mudah dilaksanakan, teratur,
berkelanjutan, dan dapat dipantau.
Strategi Pelaksanaan SEMESTA
Metode
yang digunakan dalam program ini adalah metode baca-tulis sederhana yang
disesuaikan dengan kemampuan individual siswa. Tahapan pembelajaran dapat
meliputi:
Pertama,
identifikasi kemampuan awal. Guru melakukan pemetaan kemampuan siswa, mulai
dari pengenalan huruf, bunyi huruf, suku kata, kata, kalimat, hingga membaca
teks sederhana.
Kedua,
pengelompokan berdasarkan kemampuan. Siswa tidak semata-mata dikelompokkan berdasarkan
kelas, tetapi berdasarkan kebutuhan membaca. Dengan demikian, siswa kelas V
yang masih berada pada kemampuan membaca dasar dapat memperoleh materi yang sesuai
tanpa merasa dipermalukan.
Ketiga,
penguatan aksara dan bunyi. Untuk siswa yang masih mengalami kesulitan mengenali huruf, guru
memberikan latihan pengenalan huruf dan hubungan antara simbol dengan bunyi.
Keempat,
latihan suku kata dan kata. Guru menggunakan kata-kata sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa.
Latihan dilakukan secara bertahap dari suku kata menuju kata dan kalimat.
Kelima,
membaca nyaring. Siswa
membaca secara lisan dengan bimbingan guru. Guru memberikan contoh pelafalan,
jeda, intonasi, dan ekspresi.
Keenam,
membaca berulang. Siswa
membaca teks pendek beberapa kali. Pengulangan tidak dilakukan secara mekanis,
tetapi disertai koreksi kesalahan, contoh dari guru, dan motivasi.
Ketujuh,
menulis sederhana. Membaca
dipadukan dengan aktivitas menulis agar siswa semakin mengenali hubungan antara
bunyi, huruf, kata, dan makna.
Kedelapan,
evaluasi perkembangan. Guru mencatat perkembangan siswa secara rutin sehingga kemajuan tidak
hanya berdasarkan kesan, tetapi dapat dilihat dari perubahan kemampuan
individu.
Pendekatan
tersebut sejalan dengan rekomendasi What Works Clearinghouse yang menekankan
pentingnya pengembangan keterampilan fonologis, decoding, dan kesempatan
membaca teks terhubung secara rutin untuk mendukung ketepatan, kelancaran, dan
pemahaman. (Institute of Education
Sciences)
Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua
Salah
satu kekuatan SEMESTA adalah keterlibatan orang tua. Sekolah menyadari bahwa
waktu belajar di sekolah terbatas. Oleh sebab itu, latihan membaca perlu
dilanjutkan di rumah.
Orang tua
diarahkan untuk menyediakan waktu membaca singkat secara rutin, mendengarkan
anak membaca, memberikan pujian ketika terjadi kemajuan, dan tidak memberikan
label negatif ketika anak melakukan kesalahan. Orang tua juga dapat
berkomunikasi dengan guru mengenai perkembangan anak.
Pendekatan
tersebut sesuai dengan rekomendasi What Works Clearinghouse yang mendorong
orang tua untuk membaca bersama anak, membantu anak membaca kata secara tepat,
dan memberikan contoh membaca secara lancar melalui membaca nyaring. (ERIC)
Dengan
demikian, tanggung jawab peningkatan kemampuan membaca tidak dibebankan kepada
guru saja. Sekolah, guru, orang tua, dan siswa menjadi satu kesatuan dalam
proses intervensi.
Monitoring dan Evaluasi
Program
SEMESTA dilaksanakan secara rutin dan dipantau berdasarkan perkembangan
masing-masing siswa. Monitoring dilakukan dengan melihat beberapa indikator,
antara lain:
- kemampuan mengenali huruf;
- kemampuan membaca suku kata;
- kemampuan membaca kata;
- kemampuan membaca kalimat;
- ketepatan pelafalan;
- jumlah kesalahan membaca;
- kelancaran atau keterputusan
saat membaca;
- kecepatan membaca;
- penggunaan intonasi dan ekspresi;
- kemampuan memahami isi
bacaan sederhana.
Pengukuran
kecepatan dapat menggunakan konsep Words Correct Per Minute (WCPM)
sebagai salah satu indikator tambahan. WCPM menghitung jumlah kata yang dibaca
dengan benar dalam waktu tertentu. Namun, sekolah tidak menjadikan kecepatan
sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Ketepatan, kelancaran, ekspresi, dan
pemahaman tetap diperhatikan.
Hal
tersebut penting karena tujuan akhir SEMESTA bukan menciptakan siswa yang
sekadar membaca cepat, melainkan siswa yang mampu membaca dengan benar,
lancar, percaya diri, dan memahami apa yang dibacanya.
Hasil dan Dampak Program
Pelaksanaan
program SEMESTA menunjukkan hasil yang menggembirakan. Berdasarkan pemantauan
sekolah, terdapat peningkatan yang signifikan pada rata-rata kemampuan membaca
lancar peserta program setelah mengikuti kegiatan secara rutin.
Peningkatan
tersebut terlihat dari kemampuan siswa yang secara bertahap menjadi lebih
berani membaca, semakin tepat dalam melafalkan kata, semakin sedikit mengalami hambatan
ketika membaca, serta semakin mampu membaca kalimat dan teks sederhana dengan
lebih lancar.
Keberhasilan
ini memperlihatkan bahwa siswa yang sebelumnya mengalami hambatan membaca masih
memiliki potensi perkembangan yang besar ketika memperoleh intervensi yang
sesuai, konsisten, dan tidak memberikan tekanan psikologis.
Temuan
tersebut juga memperkuat hasil penelitian terdahulu bahwa latihan membaca
berulang, pembimbingan, pemberian model membaca, dan umpan balik dapat membantu
meningkatkan kelancaran membaca. (Sage Journals)
Yang
lebih penting, SEMESTA memberikan perubahan pada cara sekolah memandang masalah
membaca. Hambatan membaca tidak lagi dianggap sebagai persoalan pribadi siswa
atau semata-mata tanggung jawab guru kelas. Hambatan tersebut menjadi tanggung
jawab bersama satuan pendidikan.
Indikator Keberhasilan Program
Sekolah
menetapkan keberhasilan SEMESTA dalam jangka panjang melalui dua indikator
utama.
Pertama,
tidak ada lagi siswa yang naik kelas dengan hambatan tidak lancar membaca.
Artinya,
sebelum seorang siswa melanjutkan ke kelas berikutnya, sekolah memastikan bahwa
siswa tersebut telah memiliki kemampuan membaca yang memadai sesuai tahap
perkembangannya.
Kedua,
tidak ada lagi siswa yang lulus SDN Purwoyoso 04 dengan kendala tidak lancar
membaca.
Indikator
kedua menjadi komitmen penting sekolah. Lulusan sekolah dasar harus memiliki
kemampuan membaca yang menjadi bekal untuk mengikuti pembelajaran di jenjang
SMP.
Dengan
demikian, keberhasilan SEMESTA tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan yang
terlaksana, jumlah pertemuan, atau jumlah siswa yang mengikuti program.
Keberhasilan utamanya diukur dari perubahan kemampuan siswa dan hilangnya
hambatan membaca sebagai persoalan yang terbawa ke jenjang berikutnya.
SEMESTA sebagai Budaya Sekolah
Program
SEMESTA pada akhirnya bukan hanya sebuah kegiatan tambahan pada hari Senin.
Program ini diharapkan berkembang menjadi budaya literasi sekolah.
Budaya
tersebut diwujudkan melalui prinsip sederhana: setiap anak berhak bisa
membaca, setiap anak harus dibantu sampai lancar, dan tidak boleh ada anak yang
tertinggal tanpa intervensi.
Guru
kelas memiliki peran untuk mengidentifikasi siswa yang membutuhkan bantuan.
Guru pendamping memberikan intervensi. Orang tua melanjutkan latihan di rumah.
Kepala sekolah memastikan program berjalan, menyediakan dukungan, melakukan
monitoring, dan mengevaluasi keberhasilannya.
Prinsip
tersebut sejalan dengan pandangan bahwa intervensi membaca akan lebih bermakna
apabila dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Kajian Maki dan
Hammerschmidt-Snidarich menunjukkan bahwa durasi intervensi berkaitan dengan
pertumbuhan kemampuan membaca, sehingga program sekolah perlu dilakukan secara
konsisten, bukan hanya sesekali. (ScienceDirect)
Kesimpulan
SEMESTA
atau Semangat Tuntas Aksara merupakan inovasi kokurikuler SDN Purwoyoso
04 Ngaliyan Kota Semarang yang lahir dari kebutuhan nyata untuk mengatasi masih
ditemukannya siswa kelas I sampai VI yang belum lancar membaca serta adanya
masukan dari sekolah lanjutan mengenai lulusan yang masih mengalami hambatan
membaca.
Program
dilaksanakan secara sederhana tetapi terstruktur melalui latihan baca-tulis,
membaca nyaring, membaca berulang, pemberian contoh, koreksi, latihan
individual, monitoring perkembangan, dan keterlibatan orang tua. Pelaksanaan
secara rutin setiap hari Senin setelah pembelajaran memberikan ruang khusus
bagi siswa untuk mendapatkan intervensi yang lebih intensif.
Landasan teori
otomatisitas membaca, Simple View of Reading, temuan National Reading Panel,
rekomendasi What Works Clearinghouse, serta berbagai penelitian nasional dan
internasional menunjukkan bahwa kelancaran membaca dapat dikembangkan melalui
latihan yang sistematis, berulang, terbimbing, dan disertai umpan balik.
Hasil
pelaksanaan SEMESTA di SDN Purwoyoso 04 menunjukkan adanya peningkatan yang
signifikan terhadap rata-rata kemampuan membaca lancar peserta program.
Keberhasilan tersebut menjadi dasar bagi sekolah untuk terus mengembangkan
SEMESTA sebagai program berkelanjutan.
Pada
akhirnya, tujuan terbesar program ini bukan sekadar meningkatkan skor membaca,
tetapi memastikan bahwa setiap anak SDN Purwoyoso 04 memiliki hak yang sama
untuk mampu membaca, memahami informasi, belajar dengan percaya diri, dan
melanjutkan pendidikan tanpa hambatan literasi dasar.
Komitmen
sekolah dirumuskan secara sederhana: tidak ada lagi siswa yang naik kelas
dengan hambatan tidak lancar membaca dan tidak ada lagi siswa yang lulus dengan
kendala tidak lancar membaca.
SEMESTA
bukan sekadar program membaca. SEMESTA adalah wujud tanggung jawab sekolah
untuk memastikan setiap anak tuntas aksara dan siap belajar sepanjang hayat.
Daftar Pustaka
Aldhanhani,
Z., & Abu-Ayyash, E. (2021). Oral reading fluency: Teaching and assessment
strategies. Universal Journal of Educational Research, 9(7), 1375–1384. https://doi.org/10.13189/ujer.2021.090704
Azizah,
A. N., Rosiana, D., & Hamdan, S. R. (2025). The effect of repeated reading
method on reading fluence in slow learning students in state primary schools. International
Journal of Pedagogy and Teacher Education. (Jurnal Universitas Sebelas Maret)
Foorman,
B., Beyler, N., Borradaile, K., Coyne, M., Denton, C. A., Dimino, J., Furgeson,
J., Hayes, L., Henke, J., Justice, L., Keating, B., Lewis, W., Sattar, S.,
Streke, A., Wagner, R., & Wissel, S. (2016). Foundational Skills to
Support Reading for Understanding in Kindergarten Through 3rd Grade. What
Works Clearinghouse, Institute of Education Sciences. (ERIC)
Fahrurrozi.
(2016). Pembelajaran membaca permulaan di sekolah dasar. Jurnal Ilmiah PGSD,
8(2). (Jurnal UNJ)
Hidayat,
I. N. (2019). Pengaruh teknik repeated reading terhadap kemampuan reading
fluency pada siswa kelas III sekolah dasar. Psympathic: Jurnal Ilmiah
Psikologi, 6(1). https://doi.org/10.15575/psy.v6i1.2134 (eJournal UIN Sunan Gunung Djati)
Hoover,
W. A., & Gough, P. B. (1990). The simple view of reading. Reading and
Writing, 2, 127–160. https://doi.org/10.1007/BF00401799 (DOI)
LaBerge,
D., & Samuels, S. J. (1974). Toward a theory of automatic information
processing in reading. Cognitive Psychology, 6(2), 293–323. https://doi.org/10.1016/0010-0285(74)90015-2 (DOI)
Maki, K.
E., & Hammerschmidt-Snidarich, S. (2022). Reading fluency intervention
dosage: A novel meta-analysis and research synthesis. Journal of School
Psychology, 92, 148–165. https://doi.org/10.1016/j.jsp.2022.03.008 (PubMed)
National
Reading Panel. (2000). Teaching Children to Read: An Evidence-Based
Assessment of the Scientific Research Literature on Reading and Its
Implications for Reading Instruction. National Institute of Child Health
and Human Development. (NICHD)
Stevens,
E. A., Walker, M. A., & Vaughn, S. (2017). The effects of reading fluency
interventions on the reading fluency and reading comprehension performance of
elementary students with learning disabilities: A synthesis of the research
from 2001 to 2014. Journal of Learning Disabilities, 50(5), 576–590. https://doi.org/10.1177/0022219416638028 (Sage Journals)
Zimmermann,
L. M., Reed, D. K., & Aloe, A. M. (2021). A meta-analysis of non-repetitive
reading fluency interventions for students with reading difficulties. Remedial
and Special Education, 42(2), 78–93. https://doi.org/10.1177/0741932519855058 (Pusat Penelitian UIowa)
Wulandari,
T., Hia, A. F. A., Rahmayani, T. R., Rahmah ZD, N. N., Syarif, A., &
Novianti, S. (2026). Strategi pembelajaran membaca permulaan pada siswa sekolah
dasar: Kajian literatur. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. https://doi.org/10.23969/jp.v11i02.49370 (Journal Universitas
Pasundan)
What
Works Clearinghouse. (2014). Repeated Reading: What Works Clearinghouse
Intervention Report. Institute of Education Sciences. (ERIC)
What Works Clearinghouse. (2022). Providing Reading Interventions for Students in Grades 4–9. Institute of Education Sciences. (Institute of Education Sciences
Dibagikan oleh
VANDA ESTETIKA SISWANDARI
SD Negeri Purwoyoso 04
Bukti Lain dari Pendidik Ini
Praktik Baik Komunikasi Efektif Guru sebagai Pembina Upacara dalam Penguatan Pendidikan Karakter di SD Negeri Purwoyoso 04
KAMIS PERFORM, DARI PANGGUNG KECIL TUMBUH KEBERANIAN DAN PRESTASI
Membangun Generasi Tangguh Melalui Mitigasi Bencana Sejak Dini
Kecerdasan Spiritual Guru Menjadi Roh Pendidikan di SDN Purwoyoso 04