💡 Kreativitas (Creativity) Berkembang (Developing) 23 Oct 2026

Mengembangkan Entrepreneurial Eye melalui Inkuiri Terbuka: Transformasi Limbah Bahan Keras Menjadi Solusi Fungsional

Foto 1 — Mengembangkan Entrepreneurial Eye melalui Inkuiri Terbuka: Transformasi Limbah Bahan Keras Menjadi Solusi Fungsional
Foto 2 — Mengembangkan Entrepreneurial Eye melalui Inkuiri Terbuka: Transformasi Limbah Bahan Keras Menjadi Solusi Fungsional
Foto 3 — Mengembangkan Entrepreneurial Eye melalui Inkuiri Terbuka: Transformasi Limbah Bahan Keras Menjadi Solusi Fungsional
1 / 3

Narasi Bukti / Refleksi

Dalam pembelajaran Prakarya kelas VIII di SMP Negeri 7 Purwodadi, saya mengubah pendekatan proyek "Kerajinan Bahan Keras" yang tadinya bersifat instruksional (membuat produk yang sudah ditentukan guru) menjadi berbasis inkuiri terbuka. Saya melempar satu pertanyaan pemantik kepada siswa: "Bagaimana kita bisa mengubah limbah kayu dari pengrajin mebel di sekitar Purwodadi atau sisa potongan bambu menjadi produk yang mampu memecahkan masalah nyata di sekolah atau memiliki nilai jual?" Pertanyaan ini dirancang untuk memicu entrepreneurial eye mereka. Siswa tidak langsung bekerja dengan gergaji dan palu, melainkan harus melakukan observasi lingkungan terlebih dahulu. Mereka menemukan berbagai masalah, mulai dari berantakannya meja piket, kurangnya tempat penyimpanan alat tulis di kelas, hingga kebutuhan akan dudukan gawai (phone stand) untuk belajar digital. Dari ide-ide tersebut, mereka mengambil peran kepemimpinan untuk merancang purwarupa, menguji kelayakan bahan, dan mengeksekusi ide abstrak mereka menjadi produk fisik yang berdaya guna.

Dampak nyata yang terjadi di kelas adalah pergeseran paradigma siswa dari "konsumen tugas" menjadi "kreator solusi". Keterlibatan emosional dan kognitif mereka meningkat drastis karena mereka merasa memiliki otoritas atas karya mereka sendiri. Ketika salah satu kelompok berhasil membuat organizer meja dari limbah kayu estetik dan melihat produk tersebut benar-benar digunakan oleh guru di ruang staf, rasa percaya diri mereka melonjak. Mereka mulai menyadari bahwa kreativitas mereka memiliki dampak sosial dan potensi ekonomi yang nyata di dunia nyata, bukan sekadar untuk mengejar nilai di atas kertas rapor.

Merefleksikan proses ini, hal yang paling berhasil adalah penggunaan pertanyaan inkuiri yang sukses membongkar kebiasaan berpikir konvensional siswa; mereka mulai melihat "sampah" sebagai "peluang". Namun, dari kacamata kritis, saya menyadari ada kelemahan pada fase eksekusi. Beberapa kelompok mengajukan ide yang sangat inovatif namun terlalu ambisius dan tidak realistis jika dihadapkan pada keterbatasan alat pertukangan di sekolah dan alokasi waktu jam pelajaran. Ke depannya, saya perlu menyisipkan sesi "uji kelayakan" (feasibility check) di tahap awal desain, agar kreativitas mereka tetap membumi dan dapat direalisasikan menjadi tindakan nyata yang tuntas, tanpa mematikan semangat inovasi mereka.

Jika ditarik ke dalam kerangka Deep Learning dari Michael Fullan, praktik ini adalah perwujudan esensial dari kompetensi Creativity. Fullan menegaskan bahwa kreativitas mendalam bukan sekadar tentang bakat seni, melainkan kemampuan mengajukan pertanyaan inkuiri yang tepat, memiliki insting kewirausahaan (entrepreneurial eye) untuk melihat peluang sosial-ekonomi, dan kepemimpinan untuk mewujudkan ide tersebut. Melalui proyek limbah bahan keras ini, siswa tidak hanya belajar teknik pertukangan dasar, tetapi mereka melatih daya cipta mereka untuk merespons masalah di lingkungan sekitarnya, mengambil risiko yang terukur, dan memimpin proyek mereka sendiri dari tahap konseptual hingga menjadi produk yang memberikan dampak konkret.

B

Dibagikan oleh

Burit Sigit Prakoso, S.Kom

SMP NEGERI 7 PURWODADI

Guru SMP Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah
Profil 6C